CCTV
Rabu, 29 Juli 2015
HANYA SEBUAH MIMPI
into:ADBmE
A D
demi tuhan kucinta kamu
Bm E
demi tuhan aku sayang pada mu
A D
sayangi lah akuu
Bm E
jangan pernah kau tinggal kan diri ku
musik:ADBmE
A D
aku mohon jangan pernah
Bm E
kau curiga ke pada diri ku
A D
ku kan slalu kan setia
Bm E
setia ke pada dirimu
#
F#m D A E
hanya kamu yang bissa membuatku jatuh cinta..
Reff:
A D
ku terlanjur cinta kepada mu..
E A
kuterlanjur sayng kepadamu
F#m Bm
biar kan lah aku malam ini...
D E
bernyanyi untuk dirimu
A D
seandai nya ku bisa menjadi..
E A
kekasih untuk dirimu..
F#m Bm D E
kukan slalu setia menemani dan menjaga mu
A
tapi itu hanya mimpi
melodi:ADEAF#mBmDE 2X
kembali ke #, reff kembali ke intro
into:ADBmE
A D
demi tuhan kucinta kamu
Bm E
demi tuhan aku sayang pada mu
A D
sayangi lah akuu
Bm E
jangan pernah kau tinggal kan diri ku
musik:ADBmE
A D
aku mohon jangan pernah
Bm E
kau curiga ke pada diri ku
A D
ku kan slalu kan setia
Bm E
setia ke pada dirimu
#
F#m D A E
hanya kamu yang bissa membuatku jatuh cinta..
Reff:
A D
ku terlanjur cinta kepada mu..
E A
kuterlanjur sayng kepadamu
F#m Bm
biar kan lah aku malam ini...
D E
bernyanyi untuk dirimu
A D
seandai nya ku bisa menjadi..
E A
kekasih untuk dirimu..
F#m Bm D E
kukan slalu setia menemani dan menjaga mu
A
tapi itu hanya mimpi
melodi:ADEAF#mBmDE 2X
kembali ke #, reff kembali ke intro
Senin, 11 Mei 2015
pengantar menejemen
Manajemen adalah (1) orang yg mengatur pekerjaan atau kerja sama di antara berbagai kelompok atau sejumlah orang untuk mencapai sasaran; (2) orang yg berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu.
Manajer adalah (1) orang yg mengatur pekerjaan atau kerja sama di antara berbagai kelompok atau sejumlah orang untuk mencapai sasaran; (2) orang yg berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu.
1. Keahlian Teknikal (Technical Skill). Keahlian teknikal atau teknis adalah keahlian khusus yang harus dimiliki oleh seorang manajer berkaitan dengan tanggung jawab utama yang harus dijalankan. Misalkan, seorang manajer yang bertanggung jawab di bidang keuangan haru mengetahui ilmu-ilmu bidang keuangan. Manajer yang bertanggung jawab di bidang pemasaran harus mengerti mengenai pasar.
2. Keahlian Hubungan Manusia ( Human Relation Skill). Manajer berkaitan dengan mengarahkan dan mengontrol agar orang—orang yang ada di dalam perusahaan bertindak untuk mencapai tujuan perusahaan. Untuk mensosialisasikan visi, misi hingga program perusahaan dibutuhkan keahlian untuk berkomunikasi dengan berbagai orang yang terlibat dalam perusahaan. Manajer yang baik dituntut untuk memiliki keahlian ini. Keberhasilan dalam mengarahkan karyawan merupakan salah satu kunci keberhasilan kepemimpinan manajer.
3. Keahlian Konseptual (Conseptual Skill). Keahlian konseptual adalah keahlian untuk berpikir abstrak, menganalisis, dan mendiagnosis dan mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan keadaan yang terjadi. Keahlian konseptual ini akan menentukan kemampuan perusahaan dalam menghadapi setiap masalah yang timbul dalam perusahaan.
4. Keahlian Pengambilan Keputusan (Decision Making Skill), meliputi langkah-langkah berikut.
o Mendefinisikan masalah, mengumpulkan fakta, dan mengidentifikasi berbagai alternatif solusi dari berbagai masalah yang mungkin akan dihadapi oleh perusahaan.
o Mengevaluasi berbagai alternatif yang ada, melihat kelebihan dan kekurangan setiap solusi yang ada, serta memilih alternatif yang terbaik dengan mempertimbangkan kondisi yang harus dihadapi.
o Mengimplementasikan pilihan yang telah dibuat ke dalam suatu perencanaan, secara berkala melakukan kontrol terhadap pelaksanaan, dan mengevaluasi apakah pilihan yang telah diambil sudah benar-benar tepat.
5. Keahlian Mengatur Waktu (Time Management Skill). keahlian ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengalokasikan waktunya dengan cara yang paling efektif. Kemampuan perencanaan waktu ini menentukan bagaimana manajer mengatur agar semua perencanaan dapat dijalankan sesuai dengan rencana awal.
Manajemen Lingkungan Organisasi
Lingkungan organisasi adalah semua elemen di dalam maupun di luar organisasi yang dapat mempengaruhi sebagian atau keseluruhan suatu organisasi. Terdapat dua jenis klasifikasi lingkungan yakni lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal yang berpengaruh langsung dalam organisasi meliputi karyawan/pegawai organisasi dalam, serta pimpinan manajer. Lingkungan eksternal dibagi dua yaitu yang berpengaruh langsung dan tidak langsung. Contoh lingkungan eksternal yang berpengaruh langsung adalah organisasi pesaing, pemasok komunitas lokal, konsumer, NGO dan lainnya. Sedangkan untuk contoh lingkungan eksternal yang tidak berpengaruh langsung adalah kondisi politik, ekonomi dan sosial. Lingkungan secara umum yang harus dianalisis kekuatannya oleh manajer karena mempengaruhi pembuat keputusan dan perencanaan adalah kekuatan teknologi, ekonomi, demografi, sosial budaya serta politik dan hukum.
Fungsi-Fungsi Manajemen
D. Fungsi-Fungsi Manajemen
Untuk mengerahkan sekelompok manusia yang memiliki latar belakang pendidikan dan karakter yang berbeda-beda, seorang manajer harus menerapkan fungsi-fungsi manajemen untuk dapat mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Fungsi-fungsi manajemen disusun dan diarahkan sedemikian rupa sehingga terdapat kesatuan irama, gerak, dan cara pandang yang sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Di antara para ahli tidak ada kesatuan pendapat mengenai fungsi-fungsi manajemen. Namun, enam ahli manajemen mengungkapkan fungsi manajemen yang sama, yaituplanning, organizing dan controlling. Sementara itu, fungsi-fungsi yang lain merupakan variasi yang intinya pada fungsi directing.
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan suatu fungsi manajemen yang paling utama. Pada urut-urutan kegiatan, perencanaan merupakan awal kegiatan. Fungsi yang lain akan bekerja setelah diberi arahan oleh bagian perencanaan. Oleh karena itu, perencanaan merupakan proses dasar manajemen untuk menentukan tujuan dan langkah-langkah yang harus dilakukan agar tujuan dapat tercapai.
a) Pertanyaan mendasar pada perencanaan
Umumnya, dalam suatu perencanaan seorang manajer atau pengambil keputusan akan memulai dengan menjawab pertanyaan 5W dan 1H sebagai berikut:
1) What. Seorang manajer harus menjawab pertanyaan, apa yang
hendak dicapai dan dirumuskan dalam mencapai tujuan tertentu.
2) Why. Seorang manajer harus menjawab, mangapa hal itu yang
menjadi tujuan, bukan yang lain. Manajer harus bisa memberi
alasan yang disertai hasil analisisnya.
3) Where. Seorang manajer harus mampu
mempertanggungjawabkan pemilihan lokasi perusahaan.
contohnya, mengapa memilih lokasi dekat konsumen? Tentunya
keputusan pemilihan tempat itu harus dapat
dipertanggungjawabkan manajer dilihat dari aspek ekonomis,
sosial, dan teknis.
4) When. Seorang manajer atau pengambil keputusan harus dapat
dengan tepat menentukan jadwal pekerjaan yang harus
diselesaikan.
5) Who. Seorang manajer harus mempertanggungjawabkan
mengapa orang-orang itu yang dipilih untuk melaksanakan suatu
pekerjaan, bukan orang lain. Manajer harus memberi alasan
tersebut dengan memperhatikan asas “the right man on the right
place”.
6) How. Seorang manajer harus dapat menentukan bagaimana cara
melaksanakan suatu pekerjaan. Seorang manajer tidak selalu
harus melaksanakan suatu pekerjaan seorang diri. Pekerjaan
tersebut dapat pula dilimpahkan kepada stafnya.
b. Pembagian perencanaan
Dilihat dari jenjang manajemen, perencanaan dibagi menjadi tiga
jenjang perencanaan sebagai berikut:
1) Perencanaan jenjang atas (top-level). Di jenjang atas,
perencanaan lebih bersifat strategis, yaitu memberi petunjuk
umum, merumuskan tujuan, mengambil keputusan, dan memberi
petunjuk pola penyelesaian, dan bersifat menyeluruh.
Perencanaan jenjang atas lebih menekankan pada tujuan jangka
panjang dari perusahaan. Perencanaan ini menjadi tanggung
jawab manajemen puncak.
2) Perencanaan jenjang menengah (middle-level). Pada jenjang ini,
perencanaan lebih bersifat administratif menyangkut cara-cara
menempuh dan bagaimana tujuan dari perencanaan itu dapat
dilaksanakan. Perencanaan jenjang menengah menjadi
tanggung jawab manajemen menengah (madya).
3) Perencanaan jenjang bawah (low-level). Pada jenjang ini,
perencanaan lebih memfokuskan untuk menghasilkan,
sehingga perencanaan mengarah pada pelaksanaan atau
operasional. Perencanaan jenjang bawah menjadi tanggung
jawab manajemen pelaksana.
c. Syarat-syarat perencanaan
Perencanaan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Memiliki tujuang yang jelas.
2) Bersifat sederhana (simple), dalam arti tidak muluk-muluk
sehingga tidak terlalu sulit dalam pelaksanaannya.
3) Memuat analisis-analisis terhadap pekerjaan yang dikerjakan.
4) Bersifat fleksibel, dalam arti dapat berubah sesuai perkembangan
yang ada.
5) Memiliki keseimbangan, yaitu keselarasan tanggung jawab dan
tujuan tiap bagian dalam perusahaan dengan tujuan akhir
perusahaan yang telah ditetapkan.
6) Memiliki kesan bahwa segala sesuatu itu telah tersedia serta
dapat digunakan secara efektif dan berdaya guna.
d. Manfaat perencanaan
Sebagai langkah awal dari kegiatan perusahaan untuk mencapai
tujuan, perencanaan memiliki manfaat-manfaat sebagai berikut:
1) Perencanaan dapat membuat pelaksanaan tugas menjadi tepat
dan kegiatan tiap unit akan terorganisasi menuju arah yang sama.
2) Perencanaan yang disusun berdasarkan penelitian yang akurat
akan menghindarkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.
3) Perencanaan memuat standar-standar atau batas-batas tindakan
dan biaya sehingga memudahkan pelaksanaan pengawasan.
4) Perencanaan dapat digunakan sebagai pedoman dalam
melaksanakan kegiatan, sehingga aparat pelaksana memiliki
irama atau gerak dan pandangan yang sama untuk mencapai
tujuan perusahaan.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian diartikan sebagai keseluruhan proses mengelompokkan orang-orang, alat-alat, tugas, tanggung jawab, dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu kesatuan yang dapat digerakkan dalam rangka mencapai tujuan.
Pengorganisasian merupakan langkah kedua fungsi manajemen. Hasil pengorganisasian adalah suatu situasi di mana organisasi dapat digerakkan menjadi satu kesatuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
a. Unsur organisasi
Dalam organisasi terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
1) Sekelompok manusia yang diarahkan untuk bekerja sama.
2) Melakukan kegiatan yang telah ditetapkan.
3) Kegiatan diarahkan untuk mencapai tujuan.
b. Manfaat pengorganisasian
Pengorganisasian bermanfaat untuk hal-hal berikut:
1) Memungkinkan pembagian tugas sesuai dengan keadaan
perusahaan.
2) Menciptakan spesialisasi dalam melaksanakan tugas.
3) Anggota organisasi mengetahui tugas-tugas yang akan
dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan.
c. Fungsi Pengorganisasian
Hal-hal yang perlu diketahui dalam fungsi pengorganisasian
adalah sebagai berikut:
1) Adanya pendelegasian wewenang dari manajemen puncak
kepada manajemen pelaksana.
2) Adanya pembagian tugas yang jelas.
3) Memiliki manajer puncak yang professional untuk
mengkoordinasikan seluruh kegiatan.
d. Bentuk organisasi
Ada beberapa bentuk organisasi yang lazim digunakan oleh
perusahaan-perusahaan, dari perusahaan kecil sampai
konglomerat, yaitu sebagai berikut:
1) Organisasi garis, yaitu bentuk organisasi di mana wewenang
pimpinan langsung ditunjukan kepada bawahan. Bawahan
bertanggung jawab langsung pada atasan.
Bentuk organisasi garis sering disebut pula bentuk organisasi
militer. Bentuk organisasi garis cocok diterapkan pada
organisasi yang sederhana dan memiliki ciri antara lain jumlah
karyawan sedikit dan belum ada spesialisasi.
Dengan ciri seperti itu, organisasi garis mempunyai kebaikan
sebagai berikut:
a) Kesatuan komando terjamin, karena pimpinan berada di
tangan satu orang.
b) Pengambilan keputusan cepat, karena pimpinan berada di
tangan satu orang.
c) Prinsip “the right man on the right place” mudah diterapkan.
d) Kemampuan dan sifat-sifat setiap karyawan dapat diketahui.
e) Terdapat rasa kekeluargaan sesama karyawan dan
pimpinan karena jumlah anggota organisasi masih terbatas.
Di samping kebaikannya, organisasi garis juga memiliki
kelemahan sebagai berikut:
a) Maju mundurnya organisasi berada di tangan satu orang.
b) Kecenderungan pimpinan bertindak otoriter cukup besar,
karena ia sendiri yang merencanakan, memberi komando, dan
mengawasi.
c) Kesempatan karyawan berkarier terbatas karena organisasi
masih kecil.
2) Organisasi fungsional, yaitu organisasi yang disusun
berdasarkan sifat dan jenis fungsi yang harus dilaksanakan.
Ciri-ciri organisasi fungsional adalah sebagai berikut:
a) Terdapat pemisahan yang tegas dalam pemberian tugas.
b) Pelaksanaan tugas tidak banyak memerlukan koordinasi,
sebab tugas-tugas sudah cukup jelas.
c) Koordinasi hanya perlu dilaksanakan di pimpinan jenjang
atas.
d) Pembagian unit-unit organisasi didasarkan atas spesialisai
tugas.
e) Para direktur mempunyai wewenang komando pada unit-unit
yang berada di bawahnya atas nama sendiri dan tidak perlu
nama direktur utama.
Bentuk organisasi fungsional sangat cocok digunakan pada badan-badan yang secara tegas memberi pekerjaan atas fungsi-fungsi. Contohnya, pada perusahaan yang terdiri atas fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi keuangan.
Organisasi fungsional memiliki kebaikan sebagai berikut:
a) Tugas-tugas karyawan dapat dibagi secara tegas sehingga tidak ada
kesimpangsiuran.
b) Produktivitas tinggi karena dapat diterapkan asas spesialisasi.
c) Koordinasi bagi karyawan pada fungsi yang sama mudah karena
terdapat persamaan tugas.
d) Koordinasi secara terus-menerus hanya di jenjang atas.
e) Untuk kelancaran tugas dan pembagian fungsi, pimpinan yang
sejenjang lebih atas dapat memberi perintah pada pimpinan
bawahannya.
Di lain pihak, organisasi fungsional juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain sebagai berikut:
a) Sulit mengadakan mutasi (perpindahan antarfungsi) dalam
perusahaan tanpa proses pembelajaran terlebih dahulu.
b) Koordinasi secara menyeluruh sulit dilaksanakan.
c) Karena perbedaan tugas, terjadi pengkotak-kotakan dalam tubuh
organisasi.
d) Pada penerimaan tugas sering terdapat kesimpangsiuran karena
perintah diterima tidak hanya dari satu orang, melainkan juga dari
beberapa orang.
3) Organisasi garis dan staf, yaitu bentuk organisasi yang memberi
wewenang kepada pimpinan untuk memberi komando kepada
bawahan. Dalam hal ini pimpinan dibantu oleh staf dalam
pelaksanaan tugasnya. Bentuk organisasi ini cocok digunakan
pada organisasi yang jumlah personilnya besar, daerah
operasinya luas, serta mempunyai bidang-bidang tugas yang
beraneka ragam dan kompleks.
Atas dasar pembagian tugas dan hierarki, personil organisasi
dapat dibagi atas tiga bagian, yaitu pimpinan, pembantu pimpinan
(staf), dan pelaksana. Pimpinan bertugas mengendalikan
oganisasi, menciptakan kelancaran tugas-tugas, menetapkan
tujuan, dan mengambil keputusan. Pembantu pimpinan (staf)
bertugas membantu pimpinan berdasarkan bidangnya masing-
masing. Pelaksana bertugas menjalankan kegiatan operasional
sehari-hari.
Pada organisasi garis dan staf yang besar, staf dapat dibedakan
atas dua jenis yaitu staf umum dan staf khusus. Staf umum
bertugas membantu pimpinan dalam membuat perencanaan dan
pengawasan serta memberikan nasihat, baik diminta maupun
tidak diminta. Staf khusus bertugas memberi nasihat pada
pelaksana.
Organisasi garis dan staf memiliki kebaikan sebagai berikut:
a) Dapat digunakan oleh organisasi yang besar dan rumit.
b) Pembagian tugas yang jelas antara pimpinan, staf, dan
pelaksana.
c) Dapat mengarah pada spesialisasi.
d) Prinsip “the right man on the right place” lebih mudah
dilaksanakan.
e) Pengambilan keputusan lebih rasional sebab pimpinan
mendapat nasihat dari para ahli di bidangnya.
f) Koordinasi dapat berjalan dengan baik karena telah mempunyai
bidang masing-masing.
Kelemahan sistem organisasi garis dan staf antara lain sebagai
berikut:
a) Rasa solidaritas kurang karena antar individu dalam organisasi
tidak selalu saling mengenal. Luasnya cakupan organisasi
menyebabkan interaksi antar individu menjadi sulit.
b) Pelaksana sering binggung untuk membedakan mana nasihat
dan mana perintah, sebab dalam organisasi yang besar ada
staf yang menerima kewenangan memerintah.
3) Pelaksanaan (Actuating)
Pelaksanaan atau tindakan adalah suatu fungsi manajemen untuk menggerakkan orang-orang agar bekerja sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Banyak orang mengambil kesimpulan bahwa fungsi manajemen pelaksanaan merupakan fungsi yang paling penting karena berhubungan dengan sumber daya manusia. Pimpinan organisasi harus dapat member motivasi sehingga setiap orang mau bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan.
Untuk menggerakkan orang bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab seperti kata pepatah, “rambut sama hitam tetapi jalan pikiran berbeda-beda”. Maksudnya, seseorang tidak bisa menebak secara pasti apa yang menjadi kemauan dan keinginan orang lain.
Menurut Prof. Abraham Maslow dalam bukunya Motivation and Personality, orang dapat digerakkan jika telah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan sebagai berikut ini:
a) Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan fisiologis berhubungan dengan kebutuhan yang
bersifat fisik, seperti kebutuhan sandang, pangan, dan
perumahan.
b) Kebutuhan keamanan dan keselamatan
Setiap orang membutuhkan rasa aman dan selamat di tempat
kediamannya atau di tempat kerja.
c) Kebutuhan sosial
Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai keinginan untuk
memenuhi kebutuhan sosial, seperti kebutuhan dapat diterima di
lingkungannya, kebutuhan ingin dihargai, kebutuhan perasaan
bahwa dirinya dinamis dan mempunyai kesempatan untuk maju,
kebutuhan untuk ikut berpartisipasi melibatkan diri, dan kebutuhan
untuk diperlakukan secara adil.
d) Kebutuhan akan prestise (harga diri)
Prestise timbul akibat prestasi. Oleh karena itu, seseorang
mempunyai keinginan untuk mengembangkan dirinya.
e) Kebutuhan aktualisasi diri
Setiap orang memiliki harapan atau cita-cita. Oleh karena itu,
setiap orang membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan
bakat dan meningkatkan kemampuan kerja demi mewujudkan
cita-citanya.
Kesimpulan dari uraian di atas adalah bahwa orang-orang mau
bekerja jika lima kebutuhan tersebut terpenuhi. Untuk
mengerahkan orang-orang agar mau bekerja dibutuhkan
kepemimpinan. Ada tiga gaya kepemimpinan yang dikenal secara
umum dalam berbagai bentuk organisai, yaitu otoriter, demokratis,
dan bebas.
a. Otoriter
Pemimpin yang otoriter adalah pemimpin yang mengambil
keputusan tanpa melibatkan bawahan. Pemimpin tersebut tidak
meminta masukan pada waktu mengambil keputusan.
Pemimpin seperti ini menganggap bawahan hanya sebatas
melaksanakan pekerjaan dan bukan sebagai rekan sekerja.
Pemimpin otoriter menganggap hubungan antara pimpinan dan
bawahan adalah layaknya hubungan antara majikan dan buruh.
b. Demokratis
Pemimpin yang demokratis adalah pemimpin yang
mengakomodasikan pendapat bawahan dalam pengambilan
keputusan. Pemimpin seperti ini menganggap dirinya
dan bawahannya adalah satu tim. Pemimpin yang demokratis
akan selalu mendengar keluhan bawahan.
c. Bebas
Pemimpin bergaya bebas akan menyerahkan proses
pengambilan keputusan pada bawahan. Dia hanya memberi
arahan dan nasihat dalam pengambilan keputusan.
4. Pengawasan (Controlling)
Pengawasan merupakan fungsi yang penting pada suatu organisasi. Pengawasan bukan merupakan keinginan untuk mencari-cari kesalahan. Pengawasan merupakan tugas untuk mengoreksi kesalahan yang terjadi demi tercapainya tujuan organisasi. Henry Fayol dalam bukunya General Industrial Management mendefinisikan pengawasan sebagai tindakan meneliti apakah segala sesuatunya telah tercapai atau berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Secara umum, tujuan dari pengawasan adalah memastikan pekerjaan sesuai dengan rencana, mencegah adanya kesalahan, menciptakan kondisi agar karyawan bertanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan, mengadakan koreksi terhadap kegagalan yang timbul, dan memberi jalan keluar atas suatu kesalahan.
Pengawasan dapat berjalan efektif apabila memperhatikan hal-hal berikut ini:
a) Jalur/urut-urutan (routing)
Agar pengawasan efektif dan efisien, seorang manajer harus dapat
menetapkan jalur atau cara untuk mengetahui di mana sering terjadi
kesalahan.
b) Penetapan waktu (scheduling)
Seorang manajer yang melakukan pengawasan harus dapat
menetapkan kapan sebaiknya tugas pengawasan itu dilakukan.
Pengawasan yang terjadwal kadang-kadang kurang efisien
dalam menemukan kesalahan karena orang-orang telah terlebih
dahulu bersiap-siap untuk menyembunyikan kesalahan yang
dilakukan. Kadang-kadang pengawasan yang dilakukan secara
mendadak lebih berguna lebih dibandingkan dengan pengawasan
yang terjadwal.
c) Perintah pelaksanaan (dispatching)
Dispatching merupakan prinsip pengawasan berupa perintah
pelaksanaan terhadap suatu pekerjaan dengan tujuan agar pekerjaan
tersebut dapat selesai tepat pada waktunya. Melalui perintah ini,
dapat dihindari suatu pelaksanaan pekerjaan yang terkatung-katung
sehingga dapat diidentifikasi siapa yang berbuat salah.
d) Tindak lanjut (follow up)
Jika seorang pimpinan telah dapat menemukan kesalahan, maka dia
harus mencari jalan keluar atas kesalahan itu. Dia bisa member
peringatan pada bawahan yang tidak sengaja berbuat salah atau
memberi hukuman pada bawahan yang sengaja berbuat salah.
Selain itu, pimpinan harus dapat memberi petunjuk pada bawahan
agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi.
Menurut William H. Newman, pengawasan yang baik harus sesuai
dengan sifat dan kebutuhan organisasi. Oleh karena itu, perlu
diperhatikan faktor-faktor dan tata organisasi di mana pengawasan
tersebut dilakukan. Selain itu, pengawasan yang baik harus
ekonomis dari segi biaya dan mampu menjamin adanya tindakan
perbaikan (checking reporting corrective action). Oleh karena itu,
perlu dipersiapkan langkah-langkah sebelum pelaksanaan
pengawasan, seperti rencana dan pola/tata organisasi.
3. Fungsi-Fungsi Perencanaan (Planning)
Sejalan dengan apa yang dikemukakan di atas, maka perlu diketahui fungsi-fungsi dari planning itu sendiri, yaitu:
a. Menentukan titik tolak dan tujuan usaha.
Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai sehingga merupakan sasaran, sedangkan perencanaan adalah alat untuk mencapai sasaran tersebut. Setiap usaha yang baik harus memiliki titik tolak, landasan dan tujuannya. Misalnya seseorang ingin pergi dari Bandung ke Surabaya naik kereta api. Di sini Surabaya merupakan tujuan, sedangkan kereta api merupakan perencanaan atau alat mencapai sasaran tersebut.
b. Memberikan pedoman, pegangan dan arah.
Suatu perusahaan harus mengadakan perencanaan apabila hendak mencapai suatu tujuan. Tanpa perencanaan, suatu perusahaan tidak akan memiliki pedoman, pegangan dan arahan dalam melaksanakan aktivitas kegiatannya. Misalnya seorang pilot terbang melintasi Samudera tanpa mengetahui apakah ia ingin menuju ke Inggris, Belanda atau Australia, maka ia akan berada di dalam ketidak-pastian.
c. Mencegah pemborosan waktu, tenaga dan material.
Dalam menetapkan alternatif dalam perencanaan, kita harus mampu menilai apakah alternatif yang dikemukakan realistis atau tidak atau dengan kata lain, apakah masih dalam batas kemampuan kita serta dapat mencapai tujuan yang kita tetapkan. Misalnya suatu perusahaan menetapkan tujuan bahwa omzet penjualan untuk tahun yang akan datang dinaikkan sebanyak 10%. Untuk itu ditetapkan alternatif media promosi antara lain radio, majalah dan surat kabar. Karena keterbatasan dana yang dimiliki, pilihan jatuh pada surat kabar karena dianggap realitas dan paling ekonomis. Tetapi selain itu, perencanaan yang baik memerlukan pemikiran lebih lanjut tentang surat kabar apa, hari pertemuannya dan judul iklan.
d. Memudahkan pengawasan.
Dengan adanya planning, kita dapat mengetahui penyelewengan yang terjadi karena planning merupakan pedoman dan patokan dalam melakukan suatu usaha. Agar dapat membuat perencanaan yang baik, maka manajer memerlukan data-data yang lengkap, dapat dipercaya serta aktual.
e. Kemampuan evaluasi yang teratur.
Dengan adanya planning, kita dapat mengetahui apakah usaha yang kita lakukakn sudah sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai. Sehingga tidak terjadi under planning dan over planning.
f. Sebagai alat koordinasi.
Perencanaan dalam suatu perusahaan kadang-kadang begitu kompleks, karena untuk perencanaan tersebut meliputi berbagai bidang di mana tanpa koordinasi yang baik dapat menimbulkan benturan-benturan yang akibatnya dapat cukup parah. Dapat kita misalkan, perjalanan suatu kereta api yang dengan tanpa adanya koordinasi yang baik, kemungkinan akan terjadi tabrakan atau harus menunggu terlalu lama pada simpangan-simpangan.
a) Berdasarkan pada alternative
Agar dapat menetapkan perencanaan yang baik maka sebelumnya agar disusun berbagai alternative, misalnya untung dan rugi kelebihan dan kekurangannya, kendala dan dukungannya, sehingga dapat menentukan perencanaan yang paling baik.
b) Harus realistis
Bila perencanaan tidak realistis, mungkin baik diatas kertas saja akan tetapi tidak dapat dilaksanakan dalam prakteknya.
Misalnya : keterbatasan dalam teknologi, keterbatasan sumber dana, tenaga kerja, dsb.
c) Harus ekonomisDisamping keterbatasan diatas, juga harus mempertimbangkan tingkat ekonomis dalam suatu rencana. Hindarkan faktor pemborosan, biaya, waktu, tempat, dsb.
d) Harus luwes (fleksibel)
Dalam hal ini perencanaan harus fleksibel, artinya setiap saat dapat dievaluir sesuai dengan perkembangan organisasi, situasi dan kondisi pada waktu tersebut. Pada dasarnya perencanaan itu disusun berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, namun dalam prakteknya sering terjadi berbagai penyimpangan yang tidak dapat dihindarkan.
e) Didasari partisipasi
Dalam pembuatan perencanaan hendaknya dapat diikutkan berbagai pihak untuk memperoleh masukan (input) agar lebih sempurna. Dengan adanya partisipasi, perusahaan akan memperoleh manfaat ganda, karena disamping rencana menjadi lebih baik, juga dapat menambah semangat kerja para karyawan (karena merasa ).
4 Pilar Pengorganisasian
Pilar Pertama: Pembagian Kerja (Division of Work)
Dalam perencanaan berbagai kegiatan atau pekerjaan untuk pencapaian tujuan tentunya telah ditentukan. Keseluruhan kegiatan dan pekerjaan yang telah di¬rencanakan tersebut tentunya perlu disederhanakan guna mempermudah bagaimana pengimplementasiannya. Upaya untuk menyederhanakan dari keseluruhan kegiatan dan pekerjaan-yang mungkin saja bersifat kompleks-menjadi lebih sederhana dan spesifik di mana setiap orang akan ditempatkan dan ditugaskan untuk setiap kegiatan yang sederhana dan spesifik tersebut dinamakan sebagai pembagian kerja (division of work).
Pilar Kedua: Pengelompokan Pekerjaan (Departmentalization)
Setelah pekerjaan dispesifikkan, maka kemudian pekerjaan-pekerjaan tersebut dikelompokkan berdasarkan kriteria tertentu yang sejenis. Sebagai contoh, untuk bisnis restoran, pencatatan menu, pemberitahuan menu kepada bagian dapur, hingga pe¬ngiriman makanan dari bagian dapur kepada pelanggan di meja makan bisa dikelompok¬kan menjadi satu departemen tertentu, katakanlah bagian Pelayan. Adapun penerimaan bon pembayaran, pencatatan dalam mesin kasir, pencatatan penerimaan dan pengeluar¬an uang, dapat dikelompokkan menjadi departemen atau bagian keuangan misalnya.
Piliar Ketiga: Penentuan Relasi Antarbagian dalam Organisasi (Hierarchy)
Dalam hierarki vertikal, di mana setiap bagian memiliki kewenangan dan tanggung jawab yang relatif terbatas pada bagian tertentu yang telah ditentukan, dan tanggung jawab yang banyak dalam suatu organisasi cenderung untuk didelegasikan pada bagian di bawahnya. Demikian juga untuk setiap bagian di bawahnya.
Dalam hierarki horizontal, di mana subbagian dari organisasi bersifat melebar ke samping secara horizontal, artinya untuk suatu organisasi sub-subbagian yang bersifat vertikal dibuat tidak terlalu banyak. Kelebihan dari bentuk ini menutupi keterbatasan atau kelemahan pada hierarki vertikal.
Pilar Keempat: Koordinasi (Coordination)
Pilar terakhir dari proses pengorganisasian adalah Koordinasi. Setelah pekerjaan dibagi, ditentukan bagian-bagiannya, hingga ditentukan hierarki organisasinya, maka langkah berikutnya adalah bagaimana agar pembagian kerja yang telah dilakukan beserta penentuan desain organisasinya berjalan secara efektif dan efisien? Di sinilah peran dari koordinasi diperlukan sebagai pilar terakhir dari pengorganisasian.
Kamis, 30 April 2015
PENGANTAR MANAJEMEN
KEPEMIMPIMAN
Disusun oleh:
Reno Adi Saputra (19214067)
Desti Rahayu (12214778)
Dimas Nurhidayat (13214109)
Etsa Diwa Permana (13214668)
Muhammad Huda Pabliana (17214310)
1EA12
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha
Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini tentang “PENGANTAR MANAJEMEN”.
Adapun makalah ini telah kami
usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan kekompakan kelompok kami,
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa
menyampaikan banyak terima kasih atas kekompakan nya yang telah membantu kami
dalam pembuatan makalah ini dengan cepat. Namun tidak lepas dari semua itu,
kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun
bahasanya maupun segi lainnya.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ini kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.
Depok, 12 Maret 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB 1
A.
Pendahuluan.............................................................................................4
a.
Latar belakang masalah.......................................................................3
b.
Topik pembahasan..............................................................................4
c.
Tujunan penelitian...............................................................................4
BAB II
B.
Pembahasan..............................................................................................5
a. Pengertian Kepemimpinan................................................................................5
b.
Perbedaan Leadership
dan Management..........................................................6
c. Arti Pentingnya Proses Kepemimpinan dalam Organisasi.............................7
d.
Tujuan Kepemimpinan.......................................................................................7
e.
Metode-Metode Kepemimpinan.....................................................................7-8
f. Hakikat Kepemimpinan dalam pandangan yang mendalam
sbb:
BAB III
C.
Penutup......................................................................................................9
1.4 simpulan.......................................................................................................9
1.5 daftar pustaka............................................................................................10
1.6Latihan soal
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup
sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan
lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam
kelompok kecil.
Hidup dalam kelompok tidak mudah. Untuk menciptakan
kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati
& menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur
adalah impian setiap insan.
Manusia adalah
makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di
anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana
yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu
mengelola lingkungan dengan baik.
Jika manusia berjiwa pemimpin, maka akan dapat
mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam
penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut
kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat
terselesaikan dengan baik.
b. Topik Bahasan
Tiada organisasi tanpa pemimpin. Courtois berpendapat
bahwa “kelompok tanpa pemimpin seperti tubuh tanpa kepala , mudah menjadi
sesat, panic, kacau, dan anarkis”. “Sebagian besar umat manusia memerlukan
pemimpin , bahkan mereka tidak menghendaki yang lain daripada itu”, demikian
pendapat Yung. Dalam beberapa pengertian organisasi ditegaskan adanya
kepemimpinan salah satu factor organisasi. Misalnya pendapat Ralph Currier
Davis yang menyatakan “Organization is any group of individual that is
working toward some common and under leadership”.(Organisasi adalah salah
satu kelompok orang yang sedang bekerja ke arah tujuan bersama di bawah
kepemimpinan). John Price Jones menyatakan “In simple term. Organization is
an united group of people working for a common goal, under common leadership,
and with the proper tools”. (Dalam kata-kata yang lebih sederhana,
organisasi adalah sekelompok yang bersatupadu bekerja untuk satu tujuan bersama
di bawah kepemimpinan bersama, dan dengan alat-alat yang tepat) Maju mundurnya
organisasi, dinamis statisnya organisasi, tumbuh kembangnya organisasi, mati
hidupnya organisasi, senang tidaknya orang bekerja dalam suatu organisasi,
serta tercapai tidaknya tujuan organisasi , sebagian ditentukan oleh tepat
tIdaknya kepemimpinan yang diterapkan dalam organisasi yang bersangkutan.
Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa pemimpin hanya dapat menjalankan
kepemimpinannya sehingga tujuan organisasi dapat tercapai sebagian besar
pekerjaan dilakukan oleh para bawahannya atau anggotanya, tetapi yang akan
dikenal adalah pemimpin itu.
C.Tujuan
Penelitian
1. Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan
2. Untuk mengetahui Perbedaan leadership dan management
3. Untuk mengetahui arti pentingnya proses kepemimpinan
dalam organisasi
4. Untuk mengetahui tujuan kepemimpinan
5. Untuk mengetahui metode-metode kepemimpinan
6. Untuk mengetahui kepemimpinan dalam kajian perspektif
Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kepemimpinan
Beberapa pendapat mengenai intisari
pengertian kepemimpinan :
1) Aktivitas
mempengaruhi(Ordway Tead)
2) Kemampuan mengajak(Reuter, Robert M.Fulmer, Keith
Devis)
3) Menggunakan wewenang dan membuat keputusan(Dubin)
4) Awal dari
tindakan(Hemphill)
5) Hubungan Kekuasaan(K.F. Janda)
6) Proses mengarahkan(James A.F Stoner)
7) Hubungan antar pribadi(Fred E. Flieder)
8) Proses antarpribadi manajer mempengaruhi pegawai(David
R. Hampton)
9) Aktivitas yang memudahkan kelompok(Theodore Herbert)
10) Seni mengkoordinasikan dan memahami(John D. Pfiffner,
Robert Presthus)
Atas dasar itu dapatlah kiranya
disusun definisi kepemimpinan yang mudah dipahami, yaitu rangkaian kegiatan
penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi
tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Kepemimpinan juga bisa di artikan Kemampuan untuk
mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan. Bentuk pengaruh tersebut
dapat secara formal seperti manajerial pada suatu organisasi.‘Nonsanctioned Leadership’ merupakan
kemampuan untuk memberi pengaruh di luar struktur formal organisasi yang
kepentingannya sama atau bahkan melebihi pengaruh struktur formal. Dengan kata
lain, seorang pemimpin dapat saja muncul dalam suatu kelompok walaupun tidak
diangkat secara formal.
B. Perbedaan
Leadership dan Management
Kepemimpinan dan manajemen sering kali disamakan
pengertiannya oleh banyak orang. Pada hakikatnya kepemimpinan mempunyai
pengertian agak luas dibandingkan dengan manajemen.
Dalam arti yang luas kepemimpinan dapat digunakan
setiap orang dan tidak hanyaterbatas berlaku dalam suatu organisasi atau kantor
tertentu. Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain,
atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok.
Disini, menurut kami ,kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan atau
tata karma birokrasi. Kepemimpinan tidak harus diikat dalam suatu organisasi
tertentu. Melainkan kepemimpinan bisa terjadi di manasaja, asalkan seseorang
menunjukkan kemampuannya mempengaruhi orang-orang lain ke arah tercapainya tujuan
tertentu.
Seorang ulama dapat diikuti orang lain dan memiliki
pengaruh yang besar terhadap orang-orang di daerahnya, tidak harus terlebih
dahulu diikat oleh aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan organisasi yang
sering dinamakan birokrasi. Konkretnya seorang kiai atau ulama, dengan
pengaruhnya yang besar, mampu mempengaruhi tingkah laku seorang Bupati Daerah,
di dalam memimpin daerahnya, sehingga tidak harus pegawai itu menjadi pegawai
di Kabupaten.
Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan
tidak harus terjadi dalam suatu organisasi tertentu. Apabila kepemimpinan
dibatasi oleh tata krama birokrasi atau dikaitkan dalam suatu organisasi
tertentu, maka dinamakan manajemen.
Dari penjelasan di atas, maka dapat saja terjadi
seorang manajer berperilaku sebagai seorang pemimpin, asalkan dia mampu
mempengaruhi perilaku orang-orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Tetapi
seorang pemimpin belum tentu menyandang manajer untuk mempengaruhi perilaku
orang lain. Dengan kata lain, seorang leader
atau pemimpin belum tentu seorang manajer, tetapi seorang manajer bisa
berperilaku sebagai seorang leader
atau pemimpin.
C. Arti
Pentingnya Proses Kepemimpinan dalam Organisasi
Sejak dahulu kala, manusia-bila berkumpul bersama
untuk mencapai tujuan-telah merasakan kebutuhan akan seorang pemimpin; sehingga
peranan pemimpin telah sedemikian dilembagakan; misalkan saja sebagai kepala
suku, kepala keluarga, kepala desa, camat, bupati sampai kepala Negara.
Efektivitas dari struktur kepala Negara yang ada ternyata, setelah dicermati,
pada kualitas seorang pemimpin yang muncul di dalam suatu lembaga atau
organisasi, baik kepemimpinan itu bentuknya formal maupun non formal.
D. Tujuan
Kepemimpinan
Dalam kaitannya dengan hubungan atasan-bawahan,
pimpinan harus mempertimbangkan dua strategi pokok:
· Pimpinan harus berfungsi sebagai“coach” dan“mentor”,
pembimbing, pengarah, dan penasehat
bagi pegawainya.
· Praktek-praktek supervise diusahakan agar dapat
memberdayakan para pegawai; seperti
usaha untuk menidentifikasikan serta menghilangkan semua hambatan yang
dirasakan pegawai untuk bekerja yang baik, mengembangkan mereka dengan
pelatihan-pelatihan tambahan, serta menumbuhkan rasa percaya diri untuk
berkinerja dengan baik.
E. Metode-Metode Kepemimpinan
Setiap pemimpin memiliki kecenderungan
yang berbeda-beda dalam gaya kepemimpinan ini. Ada yang cenderung pada
penyelesaian pekerjaan, namun juga ada yang lebih kepada membangun relasi
sosial.Pemimpin dalam organisasi-organisasi bisnis umumnya lebih memfokuskan
pada fungsi yang terkait pada pekerjaan, manakala pemimpin di
organisasi-organisasi kemahasiswaan atau organisasi non profit umumnya lebih
memfokuskan pada fungsi yang terkait pada relasi sosial.Gaya kepemimpinan akan
ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu dari segi latar belakang,
pengetahuan, nilai, dan pengalaman dari pemimpin tersebut. Pemimpin
yang menilai bahwa kepentingan organisasi harus didahulukan dari kepentingan
individu akan memiliki kecenderungan untuk memiliki gaya kepemimpinan yang berorientasi
pada pekerjaan.
Menghargai
perbedaan dan relasi antar manusia akan memiliki kecenderungan untuk bergaya
kepemimpinan yang berorientasi pada orang-orang. Namun selain keempat faktor
tersebut, karakteristik dari bawahan atau orang-orang yang
dipimpin juga perlu dipertimbangkan sebelum menentukan gaya kepemimpinan apa
yang sebaiknya digunakan. Jika orang-orang yang dipimpin cenderung untuk
menyukai keterlibatan dalam berbagai hal, memiliki inisiatif yang tinggi,
barang kali gaya yang perlu dilakukan lebih cenderung memadukan kedua gaya
kepemimpinan yang ada melalui apa yang dinamakan sebagai manajemen
partisipatif, dimana dalam pendekatan manajemen partisipatif ini faktor
orientasi sosial diakomodasi melalui keterlibatan orang-orang (apakah dalam
penyusunan tujuan, penyelesaian masalah, dan lain sebagainya) dalam
menyelesaikan pekerjaan.
Telah terjadi perdebatan dalam waktu cukup lama untuk
mencari jawaban apakah ada gaya kepemimpinan normatif atau ideal. Perdebatan
ini biasanya terpusat pada gagasan bahwa gaya ideal itu ada: yaitu gaya yang
secara aktif melibatkan bawahan dalam penetapan tujuan dengan menggunakan
teknik-teknik manajemen partisipatif dan memusatkan tujuan baik terhadap
karyawan dan tugas. Penelitian-Penelitian teorimotivasi sebelumnya juga
mendukung bahwa pendekatan manajemen partisipatif sebagai yang ideal. Banyak
praktisi manajemen merasa konsep-konsep tersebut membuat peningkatan prestasi
dan perbaikan sikap.
Di lain pihak, beberapa penelitian membuktikan pula
bahwa pendekatan otokratik dibawah berbagai kondisi, pada kenyataannya lebih
efektif dibandingkan pendekatan lain. Jadi, pengalaman-pengalaman kepemimpinan
mengungkapkan bahwa dalam berbagai situasi pendekatan otokratik mungkin yang
paling baik, dalam berbagai situasi lain pendekatan partisipatif yang lebih
efektif atau pendekatan orientasi-tugas dibanding pendekatan orientasi-karyawan
dari sisi lain. Kesimpulan yang dapat dibuat, bahwa kepemimpinan adalah
kompleks dan gaya kepemimpinan yang paling tepat tergantung pada beberapa
variabel yang saling berhubungan.
F. Hakikat Kepemimpinan dalam pandangan yang mendalam
sbb:
1.
Tanggung Jawab, bukan Keistimewaan
Ketika seorang diangkat atau
ditunjuk untuk memimpin suatu Lembaga atau Institusi, maka ia sebenarnya
mengemban tanggung jawab yang
besar sebagai seorang pemimpin yang harus mampu mempertanggung jawabkannya.
Bukan hanya dihadapan manusia, tapi juga dihadapan Alloh. Oleh karena itu,
jabatan dalam semua level atau tingkatan bukanlah suatu keistimewaan, sehingga
seorang pemimpin atau pejabat tidak boleh merasa menjadi manusia yang istimewa
sehingga ia merasa
harus diistimewakan dan ia sangat marah bila orang lain tidak mengistimewakan dirinya.
2.
Pengorbanan, Bukan Fasilitas
Menjadi Pemimpin atau Pejabat
bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai
fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban dan
menunjukkan pengorbanan, apalagi ketika masyarakat yang dipimpinnya berada
dalam kondisi sulit dan sangat sulit. Karena itu menjadi terasa aneh bila dalam
Anggaran Belanja Negara atau Propinsi
dan tingkatan yang dibawahnyna terdapat anggaran dalam puluhan bahkan
ratusan juta untuk membeli pakaian bagi para pejabat, padahal ia sudah mampu
membeli pakaian dengan harga yang mahal sekalipun dengan uangnya sendiri
sebelum ia menjadi pemimpin atau pejabat.
3.
Kerja Keras, bukan Santai
Para pemimpin mendapat tanggung
jawab yang besar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan yang
menghantui masyarakat yang dipimpinnya untuk selanjutnya mengarahkan kehidupan
masyarakat untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan benar serta mencapai
kemajuan dan kesejahteraan. Untuk itu, para pemimpin dituntut bekerja keras
dengan penuh kesungguhan dan optimis
.
4.
Melayani, bukan Sewenang-wenang
Pemimpin adalah pelayan bagi orang
yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan
kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih
baik dari pemimpin sebelumnya. Oleh karena itu, setiap pemimpin harus mempunyai
visi-misi pelayanan terhadap orang-orang yang dipimpinnya guna meningkatkan
kesejahteraan hidup, ini berarti tiidak ada keinginan sedikitpun untuk
membohongi rakyatnya, apalagi menjual rakyat, berbicara atas nama rakyat, atau
kepenntingan rakyat, padahal sebenarnya untuk kepentingan diri, keluarga, atau
golongannya. Bila pemimpin seperti ini terdapat dalm kehidupan kita, maka ini
adalah penghianat yang paling besar.
5.
Keteladanan dan Kepeloporan, bukan Pengekor
Dalam segala bentuk
kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan
pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap
nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika
seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya,
maka ia telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana
dalam soal materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan, bukanlah kemewahan.
Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bisa menjadi pelopor dan
teladan dalam kebaikan dan kebenaran.
BAB
III
PENUTUP
Demikian yang dapat kami paparkan
mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih
banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penyusun banyak berharap para
pembaca yang budiman untuk bisa memberikan kritik dan saran yang membangun
kepada penyusun demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di
kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi
penyusun pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
KESIMPULAN
Kepemimpinan yang merupakan sesuatu yang wajib dalam kehidupan
agar kehidupan menjadi teratur dan keadilan bisa ditegakkan, sehingga tidak
berlaku hukum rimba. Kepemimpinan juga dapat dikatakan penting apabila
memanfaatkan dan mengelola potensi setiap anggota dengan cara yang tepat . Maka
dari itu seorang pemimpin dalam mengendalikan kepemimpinannya harus mendorong
perilaku positif dan meminimalisir semua yang negatif, mencari pemecahan
masalah, mempelajari perubahan di sekitarnya, serta mencanangkan strategi yang
tepat untuk mencapai tujuan.
DAFTAR
PUSTAKA
Sutarto.
2006. Dasar-Dasar
Kepemimpinan Administrasi .Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Robbins
,P. Stephen. 2002. Perilaku
Organisasi .
Jakarta: Erlangga.
Thoha, Miftah. 2007. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Arsyad, Azhar.2003. Pokok-Pokok Manajemen . Yogyakarta: PustakaPelajar.
Sule, E. Tisnawati. &
Saefullah, Kurniawan.2005. Pengantar
Manajemen. Jakarta
:Kencana.
Handoko,
T.Hani. 2003. Manajemen. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Said, M.Mas’ud. 2010. Kepemimpinan : Pengembangan
Organisasi Team Building dan Perilaku Inovatif. Malang: UIN-Maliki Press.
M.Mas’ud Said, Kepemimpinan
: Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Inovatif (Malang:
UIN-Maliki Press, 2010), 237-244.
LATIHAN SOAL
1.
Gaya kepemimpinan akan ditentukan dari berbagai faktor
yaitu ...
a.latar belakang, pengetahuan, nilai, pengalaman
b.Nilai, pengalaman, tanpa ada pengetahuan dan latar
belakang
c.Pengalaman yang banyak
d.Semua jawaban salah
2.
Pemimpin harus berfungsi sebagai “COACH” dan “MENTOR” pembimbing, pengarah dan penasehat bagi pegawainya itu merupakan
dari ...
a.Metode kepemimpinan
b.Tujuan kepemimpinan
c.Arti proses
kepemimpinan
d.Pengertian
kepemimpinan
3. Pengertian kepemimpian sebagai proses mengarahkan
dikemukakan oleh ...
a. Ordway Tead
b. Nemphill
c. James A.F Stoner
d.David R.Hampton
4.
Penggunaan pengaruh untuk memotivasi karyawan agar mencapai sasaran organisasi
adalah pengertian dari ...
a. Kepemimpinan c.
Pengalaman
b. Kekuasaan d.
Kejujuran
5. Yang merupakan faktor-faktor untuk menentukan gaya
kepemimpinan adalah ...
a. Latar belakang c.
Pengalaman
b. Pengetahuan d.
Kekuasaan
6. Pola tingkah laku yang disukai oleh pemimpin dalam
proses mengarahkan pekerja adalah pengertian dari ...
a. Gaya kepemimpinan c.
Kepribadian
b. Organisasi d.
Kejujuran
7. Kemampuan untuk memberi pengaruh diluar struktur
formal organisasi yang kepentingannya sama atau bahkan melebihi pengaruh
struktur formal, merupakan pengertian dari?
a. Under
leadership
c. Management
b. leader d.
Nonsanctioned leadership
8. Apa yang dikemukakan oleh “Dubin” dalam pengertian
kepemimpinan?
a. Awal dari tindakan
b. Proses mengarahkan
c. Menggunakan
wewenang dan membuat keputusan
d. Aktivitas yang
memudahkan kelompok
9. Apa yang dinamakan dengan manajemen partisipatif?
a. Faktor
orientasi sosial diakomodasi melalui keterlibatan orang-orang dalam
menyelesaikan pekerjaan
b. Hubungan
kekuasaan
c. Proses
antarpribadi manajer mempengaruhi pegawai
d. Seni
mengkoordinasikan dan memahami
Langganan:
Komentar (Atom)





