Blogger Widgets

CCTV


Rabu, 29 Juli 2015









HANYA SEBUAH MIMPI

into:ADBmE

A                 D
demi tuhan kucinta kamu

Bm                   E
demi tuhan aku sayang pada mu

A                D
sayangi lah akuu

Bm                               E
jangan pernah kau tinggal kan diri ku
       
musik:ADBmE

A                D
aku mohon jangan pernah

Bm                        E
kau curiga ke pada diri ku

A                D
ku kan slalu kan setia

Bm                     E
setia ke pada dirimu


#
       F#m                     D    A                   E
hanya kamu yang bissa membuatku jatuh cinta..


Reff:

A                       D
ku terlanjur cinta kepada mu..

E                          A
kuterlanjur sayng kepadamu

F#m               Bm
biar kan lah aku malam ini...

D                           E
bernyanyi untuk dirimu

A                         D
seandai nya ku bisa menjadi..

E                           A
kekasih untuk dirimu..

F#m                            Bm           D                E
kukan slalu setia menemani dan menjaga mu


A
tapi itu hanya mimpi

melodi:ADEAF#mBmDE 2X
kembali ke #, reff kembali ke intro

Senin, 11 Mei 2015

ANAK ANKLEENXS


INI LAH KENANGAN KITA KAWAN 

pengantar menejemen

Manajemen adalah (1) orang yg mengatur pekerjaan atau kerja sama di antara berbagai kelompok atau sejumlah orang untuk mencapai sasaran; (2) orang yg berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu. Manajer adalah (1) orang yg mengatur pekerjaan atau kerja sama di antara berbagai kelompok atau sejumlah orang untuk mencapai sasaran; (2) orang yg berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu. 1. Keahlian Teknikal (Technical Skill). Keahlian teknikal atau teknis adalah keahlian khusus yang harus dimiliki oleh seorang manajer berkaitan dengan tanggung jawab utama yang harus dijalankan. Misalkan, seorang manajer yang bertanggung jawab di bidang keuangan haru mengetahui ilmu-ilmu bidang keuangan. Manajer yang bertanggung jawab di bidang pemasaran harus mengerti mengenai pasar. 2. Keahlian Hubungan Manusia ( Human Relation Skill). Manajer berkaitan dengan mengarahkan dan mengontrol agar orang—orang yang ada di dalam perusahaan bertindak untuk mencapai tujuan perusahaan. Untuk mensosialisasikan visi, misi hingga program perusahaan dibutuhkan keahlian untuk berkomunikasi dengan berbagai orang yang terlibat dalam perusahaan. Manajer yang baik dituntut untuk memiliki keahlian ini. Keberhasilan dalam mengarahkan karyawan merupakan salah satu kunci keberhasilan kepemimpinan manajer. 3. Keahlian Konseptual (Conseptual Skill). Keahlian konseptual adalah keahlian untuk berpikir abstrak, menganalisis, dan mendiagnosis dan mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan keadaan yang terjadi. Keahlian konseptual ini akan menentukan kemampuan perusahaan dalam menghadapi setiap masalah yang timbul dalam perusahaan. 4. Keahlian Pengambilan Keputusan (Decision Making Skill), meliputi langkah-langkah berikut. o Mendefinisikan masalah, mengumpulkan fakta, dan mengidentifikasi berbagai alternatif solusi dari berbagai masalah yang mungkin akan dihadapi oleh perusahaan. o Mengevaluasi berbagai alternatif yang ada, melihat kelebihan dan kekurangan setiap solusi yang ada, serta memilih alternatif yang terbaik dengan mempertimbangkan kondisi yang harus dihadapi. o Mengimplementasikan pilihan yang telah dibuat ke dalam suatu perencanaan, secara berkala melakukan kontrol terhadap pelaksanaan, dan mengevaluasi apakah pilihan yang telah diambil sudah benar-benar tepat. 5. Keahlian Mengatur Waktu (Time Management Skill). keahlian ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengalokasikan waktunya dengan cara yang paling efektif. Kemampuan perencanaan waktu ini menentukan bagaimana manajer mengatur agar semua perencanaan dapat dijalankan sesuai dengan rencana awal. Manajemen Lingkungan Organisasi Lingkungan organisasi adalah semua elemen di dalam maupun di luar organisasi yang dapat mempengaruhi sebagian atau keseluruhan suatu organisasi. Terdapat dua jenis klasifikasi lingkungan yakni lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal yang berpengaruh langsung dalam organisasi meliputi karyawan/pegawai organisasi dalam, serta pimpinan manajer. Lingkungan eksternal dibagi dua yaitu yang berpengaruh langsung dan tidak langsung. Contoh lingkungan eksternal yang berpengaruh langsung adalah organisasi pesaing, pemasok komunitas lokal, konsumer, NGO dan lainnya. Sedangkan untuk contoh lingkungan eksternal yang tidak berpengaruh langsung adalah kondisi politik, ekonomi dan sosial. Lingkungan secara umum yang harus dianalisis kekuatannya oleh manajer karena mempengaruhi pembuat keputusan dan perencanaan adalah kekuatan teknologi, ekonomi, demografi, sosial budaya serta politik dan hukum. Fungsi-Fungsi Manajemen D. Fungsi-Fungsi Manajemen Untuk mengerahkan sekelompok manusia yang memiliki latar belakang pendidikan dan karakter yang berbeda-beda, seorang manajer harus menerapkan fungsi-fungsi manajemen untuk dapat mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Fungsi-fungsi manajemen disusun dan diarahkan sedemikian rupa sehingga terdapat kesatuan irama, gerak, dan cara pandang yang sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Di antara para ahli tidak ada kesatuan pendapat mengenai fungsi-fungsi manajemen. Namun, enam ahli manajemen mengungkapkan fungsi manajemen yang sama, yaituplanning, organizing dan controlling. Sementara itu, fungsi-fungsi yang lain merupakan variasi yang intinya pada fungsi directing. 1. Perencanaan (Planning) Perencanaan merupakan suatu fungsi manajemen yang paling utama. Pada urut-urutan kegiatan, perencanaan merupakan awal kegiatan. Fungsi yang lain akan bekerja setelah diberi arahan oleh bagian perencanaan. Oleh karena itu, perencanaan merupakan proses dasar manajemen untuk menentukan tujuan dan langkah-langkah yang harus dilakukan agar tujuan dapat tercapai. a) Pertanyaan mendasar pada perencanaan Umumnya, dalam suatu perencanaan seorang manajer atau pengambil keputusan akan memulai dengan menjawab pertanyaan 5W dan 1H sebagai berikut: 1) What. Seorang manajer harus menjawab pertanyaan, apa yang hendak dicapai dan dirumuskan dalam mencapai tujuan tertentu. 2) Why. Seorang manajer harus menjawab, mangapa hal itu yang menjadi tujuan, bukan yang lain. Manajer harus bisa memberi alasan yang disertai hasil analisisnya. 3) Where. Seorang manajer harus mampu mempertanggungjawabkan pemilihan lokasi perusahaan. contohnya, mengapa memilih lokasi dekat konsumen? Tentunya keputusan pemilihan tempat itu harus dapat dipertanggungjawabkan manajer dilihat dari aspek ekonomis, sosial, dan teknis. 4) When. Seorang manajer atau pengambil keputusan harus dapat dengan tepat menentukan jadwal pekerjaan yang harus diselesaikan. 5) Who. Seorang manajer harus mempertanggungjawabkan mengapa orang-orang itu yang dipilih untuk melaksanakan suatu pekerjaan, bukan orang lain. Manajer harus memberi alasan tersebut dengan memperhatikan asas “the right man on the right place”. 6) How. Seorang manajer harus dapat menentukan bagaimana cara melaksanakan suatu pekerjaan. Seorang manajer tidak selalu harus melaksanakan suatu pekerjaan seorang diri. Pekerjaan tersebut dapat pula dilimpahkan kepada stafnya. b. Pembagian perencanaan Dilihat dari jenjang manajemen, perencanaan dibagi menjadi tiga jenjang perencanaan sebagai berikut: 1) Perencanaan jenjang atas (top-level). Di jenjang atas, perencanaan lebih bersifat strategis, yaitu memberi petunjuk umum, merumuskan tujuan, mengambil keputusan, dan memberi petunjuk pola penyelesaian, dan bersifat menyeluruh. Perencanaan jenjang atas lebih menekankan pada tujuan jangka panjang dari perusahaan. Perencanaan ini menjadi tanggung jawab manajemen puncak. 2) Perencanaan jenjang menengah (middle-level). Pada jenjang ini, perencanaan lebih bersifat administratif menyangkut cara-cara menempuh dan bagaimana tujuan dari perencanaan itu dapat dilaksanakan. Perencanaan jenjang menengah menjadi tanggung jawab manajemen menengah (madya). 3) Perencanaan jenjang bawah (low-level). Pada jenjang ini, perencanaan lebih memfokuskan untuk menghasilkan, sehingga perencanaan mengarah pada pelaksanaan atau operasional. Perencanaan jenjang bawah menjadi tanggung jawab manajemen pelaksana. c. Syarat-syarat perencanaan Perencanaan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1) Memiliki tujuang yang jelas. 2) Bersifat sederhana (simple), dalam arti tidak muluk-muluk sehingga tidak terlalu sulit dalam pelaksanaannya. 3) Memuat analisis-analisis terhadap pekerjaan yang dikerjakan. 4) Bersifat fleksibel, dalam arti dapat berubah sesuai perkembangan yang ada. 5) Memiliki keseimbangan, yaitu keselarasan tanggung jawab dan tujuan tiap bagian dalam perusahaan dengan tujuan akhir perusahaan yang telah ditetapkan. 6) Memiliki kesan bahwa segala sesuatu itu telah tersedia serta dapat digunakan secara efektif dan berdaya guna. d. Manfaat perencanaan Sebagai langkah awal dari kegiatan perusahaan untuk mencapai tujuan, perencanaan memiliki manfaat-manfaat sebagai berikut: 1) Perencanaan dapat membuat pelaksanaan tugas menjadi tepat dan kegiatan tiap unit akan terorganisasi menuju arah yang sama. 2) Perencanaan yang disusun berdasarkan penelitian yang akurat akan menghindarkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. 3) Perencanaan memuat standar-standar atau batas-batas tindakan dan biaya sehingga memudahkan pelaksanaan pengawasan. 4) Perencanaan dapat digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan, sehingga aparat pelaksana memiliki irama atau gerak dan pandangan yang sama untuk mencapai tujuan perusahaan. 2. Pengorganisasian (Organizing) Pengorganisasian diartikan sebagai keseluruhan proses mengelompokkan orang-orang, alat-alat, tugas, tanggung jawab, dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu kesatuan yang dapat digerakkan dalam rangka mencapai tujuan. Pengorganisasian merupakan langkah kedua fungsi manajemen. Hasil pengorganisasian adalah suatu situasi di mana organisasi dapat digerakkan menjadi satu kesatuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. a. Unsur organisasi Dalam organisasi terdapat unsur-unsur sebagai berikut: 1) Sekelompok manusia yang diarahkan untuk bekerja sama. 2) Melakukan kegiatan yang telah ditetapkan. 3) Kegiatan diarahkan untuk mencapai tujuan. b. Manfaat pengorganisasian Pengorganisasian bermanfaat untuk hal-hal berikut: 1) Memungkinkan pembagian tugas sesuai dengan keadaan perusahaan. 2) Menciptakan spesialisasi dalam melaksanakan tugas. 3) Anggota organisasi mengetahui tugas-tugas yang akan dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan. c. Fungsi Pengorganisasian Hal-hal yang perlu diketahui dalam fungsi pengorganisasian adalah sebagai berikut: 1) Adanya pendelegasian wewenang dari manajemen puncak kepada manajemen pelaksana. 2) Adanya pembagian tugas yang jelas. 3) Memiliki manajer puncak yang professional untuk mengkoordinasikan seluruh kegiatan. d. Bentuk organisasi Ada beberapa bentuk organisasi yang lazim digunakan oleh perusahaan-perusahaan, dari perusahaan kecil sampai konglomerat, yaitu sebagai berikut: 1) Organisasi garis, yaitu bentuk organisasi di mana wewenang pimpinan langsung ditunjukan kepada bawahan. Bawahan bertanggung jawab langsung pada atasan. Bentuk organisasi garis sering disebut pula bentuk organisasi militer. Bentuk organisasi garis cocok diterapkan pada organisasi yang sederhana dan memiliki ciri antara lain jumlah karyawan sedikit dan belum ada spesialisasi. Dengan ciri seperti itu, organisasi garis mempunyai kebaikan sebagai berikut: a) Kesatuan komando terjamin, karena pimpinan berada di tangan satu orang. b) Pengambilan keputusan cepat, karena pimpinan berada di tangan satu orang. c) Prinsip “the right man on the right place” mudah diterapkan. d) Kemampuan dan sifat-sifat setiap karyawan dapat diketahui. e) Terdapat rasa kekeluargaan sesama karyawan dan pimpinan karena jumlah anggota organisasi masih terbatas. Di samping kebaikannya, organisasi garis juga memiliki kelemahan sebagai berikut: a) Maju mundurnya organisasi berada di tangan satu orang. b) Kecenderungan pimpinan bertindak otoriter cukup besar, karena ia sendiri yang merencanakan, memberi komando, dan mengawasi. c) Kesempatan karyawan berkarier terbatas karena organisasi masih kecil. 2) Organisasi fungsional, yaitu organisasi yang disusun berdasarkan sifat dan jenis fungsi yang harus dilaksanakan. Ciri-ciri organisasi fungsional adalah sebagai berikut: a) Terdapat pemisahan yang tegas dalam pemberian tugas. b) Pelaksanaan tugas tidak banyak memerlukan koordinasi, sebab tugas-tugas sudah cukup jelas. c) Koordinasi hanya perlu dilaksanakan di pimpinan jenjang atas. d) Pembagian unit-unit organisasi didasarkan atas spesialisai tugas. e) Para direktur mempunyai wewenang komando pada unit-unit yang berada di bawahnya atas nama sendiri dan tidak perlu nama direktur utama. Bentuk organisasi fungsional sangat cocok digunakan pada badan-badan yang secara tegas memberi pekerjaan atas fungsi-fungsi. Contohnya, pada perusahaan yang terdiri atas fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi keuangan. Organisasi fungsional memiliki kebaikan sebagai berikut: a) Tugas-tugas karyawan dapat dibagi secara tegas sehingga tidak ada kesimpangsiuran. b) Produktivitas tinggi karena dapat diterapkan asas spesialisasi. c) Koordinasi bagi karyawan pada fungsi yang sama mudah karena terdapat persamaan tugas. d) Koordinasi secara terus-menerus hanya di jenjang atas. e) Untuk kelancaran tugas dan pembagian fungsi, pimpinan yang sejenjang lebih atas dapat memberi perintah pada pimpinan bawahannya. Di lain pihak, organisasi fungsional juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain sebagai berikut: a) Sulit mengadakan mutasi (perpindahan antarfungsi) dalam perusahaan tanpa proses pembelajaran terlebih dahulu. b) Koordinasi secara menyeluruh sulit dilaksanakan. c) Karena perbedaan tugas, terjadi pengkotak-kotakan dalam tubuh organisasi. d) Pada penerimaan tugas sering terdapat kesimpangsiuran karena perintah diterima tidak hanya dari satu orang, melainkan juga dari beberapa orang. 3) Organisasi garis dan staf, yaitu bentuk organisasi yang memberi wewenang kepada pimpinan untuk memberi komando kepada bawahan. Dalam hal ini pimpinan dibantu oleh staf dalam pelaksanaan tugasnya. Bentuk organisasi ini cocok digunakan pada organisasi yang jumlah personilnya besar, daerah operasinya luas, serta mempunyai bidang-bidang tugas yang beraneka ragam dan kompleks. Atas dasar pembagian tugas dan hierarki, personil organisasi dapat dibagi atas tiga bagian, yaitu pimpinan, pembantu pimpinan (staf), dan pelaksana. Pimpinan bertugas mengendalikan oganisasi, menciptakan kelancaran tugas-tugas, menetapkan tujuan, dan mengambil keputusan. Pembantu pimpinan (staf) bertugas membantu pimpinan berdasarkan bidangnya masing- masing. Pelaksana bertugas menjalankan kegiatan operasional sehari-hari. Pada organisasi garis dan staf yang besar, staf dapat dibedakan atas dua jenis yaitu staf umum dan staf khusus. Staf umum bertugas membantu pimpinan dalam membuat perencanaan dan pengawasan serta memberikan nasihat, baik diminta maupun tidak diminta. Staf khusus bertugas memberi nasihat pada pelaksana. Organisasi garis dan staf memiliki kebaikan sebagai berikut: a) Dapat digunakan oleh organisasi yang besar dan rumit. b) Pembagian tugas yang jelas antara pimpinan, staf, dan pelaksana. c) Dapat mengarah pada spesialisasi. d) Prinsip “the right man on the right place” lebih mudah dilaksanakan. e) Pengambilan keputusan lebih rasional sebab pimpinan mendapat nasihat dari para ahli di bidangnya. f) Koordinasi dapat berjalan dengan baik karena telah mempunyai bidang masing-masing. Kelemahan sistem organisasi garis dan staf antara lain sebagai berikut: a) Rasa solidaritas kurang karena antar individu dalam organisasi tidak selalu saling mengenal. Luasnya cakupan organisasi menyebabkan interaksi antar individu menjadi sulit. b) Pelaksana sering binggung untuk membedakan mana nasihat dan mana perintah, sebab dalam organisasi yang besar ada staf yang menerima kewenangan memerintah. 3) Pelaksanaan (Actuating) Pelaksanaan atau tindakan adalah suatu fungsi manajemen untuk menggerakkan orang-orang agar bekerja sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Banyak orang mengambil kesimpulan bahwa fungsi manajemen pelaksanaan merupakan fungsi yang paling penting karena berhubungan dengan sumber daya manusia. Pimpinan organisasi harus dapat member motivasi sehingga setiap orang mau bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan. Untuk menggerakkan orang bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab seperti kata pepatah, “rambut sama hitam tetapi jalan pikiran berbeda-beda”. Maksudnya, seseorang tidak bisa menebak secara pasti apa yang menjadi kemauan dan keinginan orang lain. Menurut Prof. Abraham Maslow dalam bukunya Motivation and Personality, orang dapat digerakkan jika telah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan sebagai berikut ini: a) Kebutuhan fisiologis Kebutuhan fisiologis berhubungan dengan kebutuhan yang bersifat fisik, seperti kebutuhan sandang, pangan, dan perumahan. b) Kebutuhan keamanan dan keselamatan Setiap orang membutuhkan rasa aman dan selamat di tempat kediamannya atau di tempat kerja. c) Kebutuhan sosial Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan sosial, seperti kebutuhan dapat diterima di lingkungannya, kebutuhan ingin dihargai, kebutuhan perasaan bahwa dirinya dinamis dan mempunyai kesempatan untuk maju, kebutuhan untuk ikut berpartisipasi melibatkan diri, dan kebutuhan untuk diperlakukan secara adil. d) Kebutuhan akan prestise (harga diri) Prestise timbul akibat prestasi. Oleh karena itu, seseorang mempunyai keinginan untuk mengembangkan dirinya. e) Kebutuhan aktualisasi diri Setiap orang memiliki harapan atau cita-cita. Oleh karena itu, setiap orang membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan bakat dan meningkatkan kemampuan kerja demi mewujudkan cita-citanya. Kesimpulan dari uraian di atas adalah bahwa orang-orang mau bekerja jika lima kebutuhan tersebut terpenuhi. Untuk mengerahkan orang-orang agar mau bekerja dibutuhkan kepemimpinan. Ada tiga gaya kepemimpinan yang dikenal secara umum dalam berbagai bentuk organisai, yaitu otoriter, demokratis, dan bebas. a. Otoriter Pemimpin yang otoriter adalah pemimpin yang mengambil keputusan tanpa melibatkan bawahan. Pemimpin tersebut tidak meminta masukan pada waktu mengambil keputusan. Pemimpin seperti ini menganggap bawahan hanya sebatas melaksanakan pekerjaan dan bukan sebagai rekan sekerja. Pemimpin otoriter menganggap hubungan antara pimpinan dan bawahan adalah layaknya hubungan antara majikan dan buruh. b. Demokratis Pemimpin yang demokratis adalah pemimpin yang mengakomodasikan pendapat bawahan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin seperti ini menganggap dirinya dan bawahannya adalah satu tim. Pemimpin yang demokratis akan selalu mendengar keluhan bawahan. c. Bebas Pemimpin bergaya bebas akan menyerahkan proses pengambilan keputusan pada bawahan. Dia hanya memberi arahan dan nasihat dalam pengambilan keputusan. 4. Pengawasan (Controlling) Pengawasan merupakan fungsi yang penting pada suatu organisasi. Pengawasan bukan merupakan keinginan untuk mencari-cari kesalahan. Pengawasan merupakan tugas untuk mengoreksi kesalahan yang terjadi demi tercapainya tujuan organisasi. Henry Fayol dalam bukunya General Industrial Management mendefinisikan pengawasan sebagai tindakan meneliti apakah segala sesuatunya telah tercapai atau berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Secara umum, tujuan dari pengawasan adalah memastikan pekerjaan sesuai dengan rencana, mencegah adanya kesalahan, menciptakan kondisi agar karyawan bertanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan, mengadakan koreksi terhadap kegagalan yang timbul, dan memberi jalan keluar atas suatu kesalahan. Pengawasan dapat berjalan efektif apabila memperhatikan hal-hal berikut ini: a) Jalur/urut-urutan (routing) Agar pengawasan efektif dan efisien, seorang manajer harus dapat menetapkan jalur atau cara untuk mengetahui di mana sering terjadi kesalahan. b) Penetapan waktu (scheduling) Seorang manajer yang melakukan pengawasan harus dapat menetapkan kapan sebaiknya tugas pengawasan itu dilakukan. Pengawasan yang terjadwal kadang-kadang kurang efisien dalam menemukan kesalahan karena orang-orang telah terlebih dahulu bersiap-siap untuk menyembunyikan kesalahan yang dilakukan. Kadang-kadang pengawasan yang dilakukan secara mendadak lebih berguna lebih dibandingkan dengan pengawasan yang terjadwal. c) Perintah pelaksanaan (dispatching) Dispatching merupakan prinsip pengawasan berupa perintah pelaksanaan terhadap suatu pekerjaan dengan tujuan agar pekerjaan tersebut dapat selesai tepat pada waktunya. Melalui perintah ini, dapat dihindari suatu pelaksanaan pekerjaan yang terkatung-katung sehingga dapat diidentifikasi siapa yang berbuat salah. d) Tindak lanjut (follow up) Jika seorang pimpinan telah dapat menemukan kesalahan, maka dia harus mencari jalan keluar atas kesalahan itu. Dia bisa member peringatan pada bawahan yang tidak sengaja berbuat salah atau memberi hukuman pada bawahan yang sengaja berbuat salah. Selain itu, pimpinan harus dapat memberi petunjuk pada bawahan agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Menurut William H. Newman, pengawasan yang baik harus sesuai dengan sifat dan kebutuhan organisasi. Oleh karena itu, perlu diperhatikan faktor-faktor dan tata organisasi di mana pengawasan tersebut dilakukan. Selain itu, pengawasan yang baik harus ekonomis dari segi biaya dan mampu menjamin adanya tindakan perbaikan (checking reporting corrective action). Oleh karena itu, perlu dipersiapkan langkah-langkah sebelum pelaksanaan pengawasan, seperti rencana dan pola/tata organisasi. 3. Fungsi-Fungsi Perencanaan (Planning) Sejalan dengan apa yang dikemukakan di atas, maka perlu diketahui fungsi-fungsi dari planning itu sendiri, yaitu: a. Menentukan titik tolak dan tujuan usaha. Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai sehingga merupakan sasaran, sedangkan perencanaan adalah alat untuk mencapai sasaran tersebut. Setiap usaha yang baik harus memiliki titik tolak, landasan dan tujuannya. Misalnya seseorang ingin pergi dari Bandung ke Surabaya naik kereta api. Di sini Surabaya merupakan tujuan, sedangkan kereta api merupakan perencanaan atau alat mencapai sasaran tersebut. b. Memberikan pedoman, pegangan dan arah. Suatu perusahaan harus mengadakan perencanaan apabila hendak mencapai suatu tujuan. Tanpa perencanaan, suatu perusahaan tidak akan memiliki pedoman, pegangan dan arahan dalam melaksanakan aktivitas kegiatannya. Misalnya seorang pilot terbang melintasi Samudera tanpa mengetahui apakah ia ingin menuju ke Inggris, Belanda atau Australia, maka ia akan berada di dalam ketidak-pastian. c. Mencegah pemborosan waktu, tenaga dan material. Dalam menetapkan alternatif dalam perencanaan, kita harus mampu menilai apakah alternatif yang dikemukakan realistis atau tidak atau dengan kata lain, apakah masih dalam batas kemampuan kita serta dapat mencapai tujuan yang kita tetapkan. Misalnya suatu perusahaan menetapkan tujuan bahwa omzet penjualan untuk tahun yang akan datang dinaikkan sebanyak 10%. Untuk itu ditetapkan alternatif media promosi antara lain radio, majalah dan surat kabar. Karena keterbatasan dana yang dimiliki, pilihan jatuh pada surat kabar karena dianggap realitas dan paling ekonomis. Tetapi selain itu, perencanaan yang baik memerlukan pemikiran lebih lanjut tentang surat kabar apa, hari pertemuannya dan judul iklan. d. Memudahkan pengawasan. Dengan adanya planning, kita dapat mengetahui penyelewengan yang terjadi karena planning merupakan pedoman dan patokan dalam melakukan suatu usaha. Agar dapat membuat perencanaan yang baik, maka manajer memerlukan data-data yang lengkap, dapat dipercaya serta aktual. e. Kemampuan evaluasi yang teratur. Dengan adanya planning, kita dapat mengetahui apakah usaha yang kita lakukakn sudah sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai. Sehingga tidak terjadi under planning dan over planning. f. Sebagai alat koordinasi. Perencanaan dalam suatu perusahaan kadang-kadang begitu kompleks, karena untuk perencanaan tersebut meliputi berbagai bidang di mana tanpa koordinasi yang baik dapat menimbulkan benturan-benturan yang akibatnya dapat cukup parah. Dapat kita misalkan, perjalanan suatu kereta api yang dengan tanpa adanya koordinasi yang baik, kemungkinan akan terjadi tabrakan atau harus menunggu terlalu lama pada simpangan-simpangan. a) Berdasarkan pada alternative Agar dapat menetapkan perencanaan yang baik maka sebelumnya agar disusun berbagai alternative, misalnya untung dan rugi kelebihan dan kekurangannya, kendala dan dukungannya, sehingga dapat menentukan perencanaan yang paling baik. b) Harus realistis Bila perencanaan tidak realistis, mungkin baik diatas kertas saja akan tetapi tidak dapat dilaksanakan dalam prakteknya. Misalnya : keterbatasan dalam teknologi, keterbatasan sumber dana, tenaga kerja, dsb. c) Harus ekonomisDisamping keterbatasan diatas, juga harus mempertimbangkan tingkat ekonomis dalam suatu rencana. Hindarkan faktor pemborosan, biaya, waktu, tempat, dsb. d) Harus luwes (fleksibel) Dalam hal ini perencanaan harus fleksibel, artinya setiap saat dapat dievaluir sesuai dengan perkembangan organisasi, situasi dan kondisi pada waktu tersebut. Pada dasarnya perencanaan itu disusun berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, namun dalam prakteknya sering terjadi berbagai penyimpangan yang tidak dapat dihindarkan. e) Didasari partisipasi Dalam pembuatan perencanaan hendaknya dapat diikutkan berbagai pihak untuk memperoleh masukan (input) agar lebih sempurna. Dengan adanya partisipasi, perusahaan akan memperoleh manfaat ganda, karena disamping rencana menjadi lebih baik, juga dapat menambah semangat kerja para karyawan (karena merasa ). 4 Pilar Pengorganisasian Pilar Pertama: Pembagian Kerja (Division of Work) Dalam perencanaan berbagai kegiatan atau pekerjaan untuk pencapaian tujuan tentunya telah ditentukan. Keseluruhan kegiatan dan pekerjaan yang telah di¬rencanakan tersebut tentunya perlu disederhanakan guna mempermudah bagaimana pengimplementasiannya. Upaya untuk menyederhanakan dari keseluruhan kegiatan dan pekerjaan-yang mungkin saja bersifat kompleks-menjadi lebih sederhana dan spesifik di mana setiap orang akan ditempatkan dan ditugaskan untuk setiap kegiatan yang sederhana dan spesifik tersebut dinamakan sebagai pembagian kerja (division of work). Pilar Kedua: Pengelompokan Pekerjaan (Departmentalization) Setelah pekerjaan dispesifikkan, maka kemudian pekerjaan-pekerjaan tersebut dikelompokkan berdasarkan kriteria tertentu yang sejenis. Sebagai contoh, untuk bisnis restoran, pencatatan menu, pemberitahuan menu kepada bagian dapur, hingga pe¬ngiriman makanan dari bagian dapur kepada pelanggan di meja makan bisa dikelompok¬kan menjadi satu departemen tertentu, katakanlah bagian Pelayan. Adapun penerimaan bon pembayaran, pencatatan dalam mesin kasir, pencatatan penerimaan dan pengeluar¬an uang, dapat dikelompokkan menjadi departemen atau bagian keuangan misalnya. Piliar Ketiga: Penentuan Relasi Antarbagian dalam Organisasi (Hierarchy) Dalam hierarki vertikal, di mana setiap bagian memiliki kewenangan dan tanggung jawab yang relatif terbatas pada bagian tertentu yang telah ditentukan, dan tanggung jawab yang banyak dalam suatu organisasi cenderung untuk didelegasikan pada bagian di bawahnya. Demikian juga untuk setiap bagian di bawahnya. Dalam hierarki horizontal, di mana subbagian dari organisasi bersifat melebar ke samping secara horizontal, artinya untuk suatu organisasi sub-subbagian yang bersifat vertikal dibuat tidak terlalu banyak. Kelebihan dari bentuk ini menutupi keterbatasan atau kelemahan pada hierarki vertikal. Pilar Keempat: Koordinasi (Coordination) Pilar terakhir dari proses pengorganisasian adalah Koordinasi. Setelah pekerjaan dibagi, ditentukan bagian-bagiannya, hingga ditentukan hierarki organisasinya, maka langkah berikutnya adalah bagaimana agar pembagian kerja yang telah dilakukan beserta penentuan desain organisasinya berjalan secara efektif dan efisien? Di sinilah peran dari koordinasi diperlukan sebagai pilar terakhir dari pengorganisasian.

Kamis, 30 April 2015

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA



PENGANTAR MANAJEMEN
KEPEMIMPIMAN


Disusun oleh:
Reno Adi Saputra (19214067)
Desti Rahayu (12214778)
Dimas Nurhidayat (13214109)
Etsa Diwa Permana (13214668)
Muhammad Huda Pabliana (17214310)


                                                           1EA12
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji  syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tentang “PENGANTAR MANAJEMEN”.
  Adapun makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan kekompakan kelompok kami, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih atas kekompakan nya yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini dengan cepat. Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya.

          Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ini kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.


Depok, 12 Maret 2015

Penyusun









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                                                                                                            2
DAFTAR ISI                                                                                                                          3
BAB 1
A.   Pendahuluan.............................................................................................4
a.      Latar belakang masalah.......................................................................3
b.     Topik pembahasan..............................................................................4
c.      Tujunan penelitian...............................................................................4

BAB  II      
B.   Pembahasan..............................................................................................5
a.      Pengertian Kepemimpinan................................................................................5
b.     Perbedaan Leadership dan Management..........................................................6
c.      Arti Pentingnya Proses Kepemimpinan dalam Organisasi.............................7
d.     Tujuan Kepemimpinan.......................................................................................7
e.      Metode-Metode Kepemimpinan.....................................................................7-8
f.        Hakikat Kepemimpinan dalam pandangan yang mendalam sbb:
 BAB III
C.   Penutup......................................................................................................9
1.4 simpulan.......................................................................................................9
1.5  daftar pustaka............................................................................................10
1.6Latihan soal





BAB I
PENDAHULUAN

 a. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.
Hidup dalam kelompok tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati & menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan.
 Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik.
Jika manusia berjiwa pemimpin, maka akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.










b. Topik Bahasan
Tiada organisasi tanpa pemimpin. Courtois berpendapat bahwa “kelompok tanpa pemimpin seperti tubuh tanpa kepala , mudah menjadi sesat, panic, kacau, dan anarkis”. “Sebagian besar umat manusia memerlukan pemimpin , bahkan mereka tidak menghendaki yang lain daripada itu”, demikian pendapat Yung. Dalam beberapa pengertian organisasi ditegaskan adanya kepemimpinan salah satu factor organisasi. Misalnya pendapat Ralph Currier Davis yang menyatakan “Organization is any group of individual that is working toward some common and under leadership”.(Organisasi adalah salah satu kelompok orang yang sedang bekerja ke arah tujuan bersama di bawah kepemimpinan). John Price Jones menyatakan “In simple term. Organization is an united group of people working for a common goal, under common leadership, and with the proper tools”. (Dalam kata-kata yang lebih sederhana, organisasi adalah sekelompok yang bersatupadu bekerja untuk satu tujuan bersama di bawah kepemimpinan bersama, dan dengan alat-alat yang tepat) Maju mundurnya organisasi, dinamis statisnya organisasi, tumbuh kembangnya organisasi, mati hidupnya organisasi, senang tidaknya orang bekerja dalam suatu organisasi, serta tercapai tidaknya tujuan organisasi , sebagian ditentukan oleh tepat tIdaknya kepemimpinan yang diterapkan dalam organisasi yang bersangkutan. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa pemimpin hanya dapat menjalankan kepemimpinannya sehingga tujuan organisasi dapat tercapai sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh para bawahannya atau anggotanya, tetapi yang akan dikenal adalah pemimpin itu.
C.Tujuan Penelitian
    1. Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan
    2. Untuk mengetahui Perbedaan leadership dan management
    3. Untuk mengetahui arti pentingnya proses kepemimpinan dalam organisasi
    4. Untuk mengetahui tujuan kepemimpinan
    5. Untuk mengetahui metode-metode kepemimpinan
    6. Untuk mengetahui kepemimpinan dalam kajian perspektif Islam


BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Kepemimpinan
      Beberapa pendapat mengenai intisari pengertian kepemimpinan :                                                                                     1) Aktivitas mempengaruhi(Ordway Tead)                                      
      2) Kemampuan mengajak(Reuter, Robert M.Fulmer, Keith Devis)
3) Menggunakan wewenang dan membuat keputusan(Dubin)
4) Awal dari tindakan(Hemphill)
5) Hubungan Kekuasaan(K.F. Janda)
6) Proses mengarahkan(James A.F Stoner)
7) Hubungan antar pribadi(Fred E. Flieder)
8) Proses antarpribadi manajer mempengaruhi pegawai(David R. Hampton)
9) Aktivitas yang memudahkan kelompok(Theodore Herbert)
10) Seni mengkoordinasikan dan memahami(John D. Pfiffner, Robert Presthus)

Atas dasar itu dapatlah kiranya disusun definisi kepemimpinan yang mudah dipahami, yaitu rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Kepemimpinan juga bisa di artikan Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan. Bentuk pengaruh tersebut dapat secara formal seperti manajerial pada suatu organisasi.‘Nonsanctioned Leadership’ merupakan kemampuan untuk memberi pengaruh di luar struktur formal organisasi yang kepentingannya sama atau bahkan melebihi pengaruh struktur formal. Dengan kata lain, seorang pemimpin dapat saja muncul dalam suatu kelompok walaupun tidak diangkat secara formal.
B.  Perbedaan Leadership dan Management

Kepemimpinan dan manajemen sering kali disamakan pengertiannya oleh banyak orang. Pada hakikatnya kepemimpinan mempunyai pengertian agak luas dibandingkan dengan manajemen.
Dalam arti yang luas kepemimpinan dapat digunakan setiap orang dan tidak hanyaterbatas berlaku dalam suatu organisasi atau kantor tertentu. Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Disini, menurut kami ,kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan atau tata karma birokrasi. Kepemimpinan tidak harus diikat dalam suatu organisasi tertentu. Melainkan kepemimpinan bisa terjadi di manasaja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya mempengaruhi orang-orang lain ke arah tercapainya tujuan tertentu.
Seorang ulama dapat diikuti orang lain dan memiliki pengaruh yang besar terhadap orang-orang di daerahnya, tidak harus terlebih dahulu diikat oleh aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan organisasi yang sering dinamakan birokrasi. Konkretnya seorang kiai atau ulama, dengan pengaruhnya yang besar, mampu mempengaruhi tingkah laku seorang Bupati Daerah, di dalam memimpin daerahnya, sehingga tidak harus pegawai itu menjadi pegawai di Kabupaten.
Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan tidak harus terjadi dalam suatu organisasi tertentu. Apabila kepemimpinan dibatasi oleh tata krama birokrasi atau dikaitkan dalam suatu organisasi tertentu, maka dinamakan manajemen.
Dari penjelasan di atas, maka dapat saja terjadi seorang manajer berperilaku sebagai seorang pemimpin, asalkan dia mampu mempengaruhi perilaku orang-orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Tetapi seorang pemimpin belum tentu menyandang manajer untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Dengan kata lain, seorang leader atau pemimpin belum tentu seorang manajer, tetapi seorang manajer bisa berperilaku sebagai seorang leader atau pemimpin.

C.  Arti Pentingnya Proses Kepemimpinan dalam Organisasi
Sejak dahulu kala, manusia-bila berkumpul bersama untuk mencapai tujuan-telah merasakan kebutuhan akan seorang pemimpin; sehingga peranan pemimpin telah sedemikian dilembagakan; misalkan saja sebagai kepala suku, kepala keluarga, kepala desa, camat, bupati sampai kepala Negara. Efektivitas dari struktur kepala Negara yang ada ternyata, setelah dicermati, pada kualitas seorang pemimpin yang muncul di dalam suatu lembaga atau organisasi, baik kepemimpinan itu bentuknya formal maupun non formal.
D.  Tujuan Kepemimpinan
Dalam kaitannya dengan hubungan atasan-bawahan, pimpinan harus mempertimbangkan dua strategi pokok:
· Pimpinan harus berfungsi sebagai“coach” dan“mentor”, pembimbing, pengarah,   dan penasehat bagi pegawainya.
· Praktek-praktek supervise diusahakan agar dapat memberdayakan para pegawai;  seperti usaha untuk menidentifikasikan serta menghilangkan semua hambatan yang dirasakan pegawai untuk bekerja yang baik, mengembangkan mereka dengan pelatihan-pelatihan tambahan, serta menumbuhkan rasa percaya diri untuk berkinerja dengan baik.

E. Metode-Metode Kepemimpinan
                  Setiap pemimpin memiliki kecenderungan yang berbeda-beda dalam gaya kepemimpinan ini. Ada yang cenderung pada penyelesaian pekerjaan, namun juga ada yang lebih kepada membangun relasi sosial.Pemimpin dalam organisasi-organisasi bisnis umumnya lebih memfokuskan pada fungsi yang terkait pada pekerjaan, manakala pemimpin di organisasi-organisasi kemahasiswaan atau organisasi non profit umumnya lebih memfokuskan pada fungsi yang terkait pada relasi sosial.Gaya kepemimpinan akan ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu dari segi latar belakang, pengetahuan, nilai, dan pengalaman dari pemimpin tersebut. Pemimpin yang menilai bahwa kepentingan organisasi harus didahulukan dari kepentingan individu akan memiliki kecenderungan untuk memiliki gaya kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan.                                  
Menghargai perbedaan dan relasi antar manusia akan memiliki kecenderungan untuk bergaya kepemimpinan yang berorientasi pada orang-orang. Namun selain keempat faktor tersebut, karakteristik dari bawahan atau orang-orang yang dipimpin juga perlu dipertimbangkan sebelum menentukan gaya kepemimpinan apa yang sebaiknya digunakan. Jika orang-orang yang dipimpin cenderung untuk menyukai keterlibatan dalam berbagai hal, memiliki inisiatif yang tinggi, barang kali gaya yang perlu dilakukan lebih cenderung memadukan kedua gaya kepemimpinan yang ada melalui apa yang dinamakan sebagai manajemen partisipatif, dimana dalam pendekatan manajemen partisipatif ini faktor orientasi sosial diakomodasi melalui keterlibatan orang-orang (apakah dalam penyusunan tujuan, penyelesaian masalah, dan lain sebagainya) dalam menyelesaikan pekerjaan.
Telah terjadi perdebatan dalam waktu cukup lama untuk mencari jawaban apakah ada gaya kepemimpinan normatif atau ideal. Perdebatan ini biasanya terpusat pada gagasan bahwa gaya ideal itu ada: yaitu gaya yang secara aktif melibatkan bawahan dalam penetapan tujuan dengan menggunakan teknik-teknik manajemen partisipatif dan memusatkan tujuan baik terhadap karyawan dan tugas. Penelitian-Penelitian teorimotivasi sebelumnya juga mendukung bahwa pendekatan manajemen partisipatif sebagai yang ideal. Banyak praktisi manajemen merasa konsep-konsep tersebut membuat peningkatan prestasi dan perbaikan sikap.
Di lain pihak, beberapa penelitian membuktikan pula bahwa pendekatan otokratik dibawah berbagai kondisi, pada kenyataannya lebih efektif dibandingkan pendekatan lain. Jadi, pengalaman-pengalaman kepemimpinan mengungkapkan bahwa dalam berbagai situasi pendekatan otokratik mungkin yang paling baik, dalam berbagai situasi lain pendekatan partisipatif yang lebih efektif atau pendekatan orientasi-tugas dibanding pendekatan orientasi-karyawan dari sisi lain. Kesimpulan yang dapat dibuat, bahwa kepemimpinan adalah kompleks dan gaya kepemimpinan yang paling tepat tergantung pada beberapa variabel yang saling berhubungan.
F. Hakikat Kepemimpinan dalam pandangan yang mendalam sbb:
1.    Tanggung Jawab, bukan Keistimewaan
Ketika seorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu Lembaga atau Institusi, maka ia sebenarnya mengemban tanggung jawab yang besar sebagai seorang pemimpin yang harus mampu mempertanggung jawabkannya. Bukan hanya dihadapan manusia, tapi juga dihadapan Alloh. Oleh karena itu, jabatan dalam semua level atau tingkatan bukanlah suatu keistimewaan, sehingga seorang pemimpin atau pejabat tidak boleh merasa menjadi manusia yang istimewa sehingga ia merasa harus diistimewakan dan ia sangat marah bila orang lain  tidak mengistimewakan dirinya.

2.    Pengorbanan, Bukan Fasilitas
Menjadi Pemimpin atau Pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan, apalagi ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit. Karena itu menjadi terasa aneh bila dalam Anggaran Belanja Negara atau Propinsi  dan tingkatan yang dibawahnyna terdapat anggaran dalam puluhan bahkan ratusan juta untuk membeli pakaian bagi para pejabat, padahal ia sudah mampu membeli pakaian dengan harga yang mahal sekalipun dengan uangnya sendiri sebelum ia menjadi pemimpin atau pejabat.


3.    Kerja Keras, bukan Santai
Para pemimpin mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan yang menghantui masyarakat yang dipimpinnya untuk selanjutnya mengarahkan kehidupan masyarakat untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan benar serta mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Untuk itu, para pemimpin dituntut bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan optimis
.
4.    Melayani, bukan Sewenang-wenang
Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya. Oleh karena itu, setiap pemimpin harus mempunyai visi-misi pelayanan terhadap orang-orang yang dipimpinnya guna meningkatkan kesejahteraan hidup, ini berarti tiidak ada keinginan sedikitpun untuk membohongi rakyatnya, apalagi menjual rakyat, berbicara atas nama rakyat, atau kepenntingan rakyat, padahal sebenarnya untuk kepentingan diri, keluarga, atau golongannya. Bila pemimpin seperti ini terdapat dalm kehidupan kita, maka ini adalah penghianat yang paling besar.



5.    Keteladanan dan  Kepeloporan, bukan Pengekor
Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika  seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam soal materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan, bukanlah kemewahan. Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bisa menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran.




































BAB III
PENUTUP

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penyusun banyak berharap para pembaca yang budiman untuk bisa memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penyusun demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penyusun pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.


KESIMPULAN
                                    Kepemimpinan yang merupakan sesuatu yang wajib dalam kehidupan agar kehidupan menjadi teratur dan keadilan bisa ditegakkan, sehingga tidak berlaku hukum rimba. Kepemimpinan juga dapat dikatakan penting apabila memanfaatkan dan mengelola potensi setiap anggota dengan cara yang tepat . Maka dari itu seorang pemimpin dalam mengendalikan kepemimpinannya harus mendorong perilaku positif dan meminimalisir semua yang negatif, mencari pemecahan masalah, mempelajari perubahan di sekitarnya, serta mencanangkan strategi yang tepat untuk mencapai tujuan.




DAFTAR PUSTAKA
Sutarto. 2006. Dasar-Dasar Kepemimpinan Administrasi .Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Robbins ,P. Stephen. 2002. Perilaku Organisasi . Jakarta: Erlangga.
Thoha, Miftah. 2007. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Arsyad, Azhar.2003. Pokok-Pokok Manajemen . Yogyakarta: PustakaPelajar.
Sule, E. Tisnawati. & Saefullah, Kurniawan.2005. Pengantar Manajemen. Jakarta :Kencana.
Handoko, T.Hani. 2003. Manajemen. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Said, M.Mas’ud. 2010. Kepemimpinan : Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Inovatif. Malang: UIN-Maliki Press.
Sutarto,Dasar-Dasar Kepemimpinan Administrasi (Yogyakarta: Gajah Mada University Press,2006), 23-25
Stephen P. Robbins, Perilaku Organisasi (Jakarta: Erlangga,2002), 163-164.
Miftah Thoha, Kepemimpinan dalam Manajemen (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), 8-10.
Azhar Arsyad, Pokok-Pokok Manajemen (Yogyakarta: PustakaPelajar, 2003), 130.
Ernie Tisnawati Suledan Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen (Jakarta :Kencana, 2005), 260.
T.Hani Handoko,Manajemen (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2003), 306.
M.Mas’ud Said, Kepemimpinan : Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Inovatif (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 237-244.




LATIHAN SOAL
1.    Gaya kepemimpinan akan ditentukan dari berbagai faktor yaitu ...

a.latar belakang, pengetahuan, nilai, pengalaman
b.Nilai, pengalaman, tanpa ada pengetahuan dan latar belakang
c.Pengalaman yang banyak
d.Semua jawaban salah
2. Pemimpin harus berfungsi sebagai “COACH” dan “MENTOR” pembimbing, pengarah  dan penasehat bagi pegawainya itu merupakan dari ...
a.Metode kepemimpinan
b.Tujuan kepemimpinan
c.Arti proses kepemimpinan
d.Pengertian kepemimpinan
3. Pengertian kepemimpian sebagai proses mengarahkan dikemukakan oleh ...
a. Ordway Tead
b. Nemphill
c. James A.F Stoner
d.David R.Hampton
4. Penggunaan pengaruh untuk memotivasi karyawan agar mencapai sasaran organisasi adalah pengertian dari ...
a. Kepemimpinan                                                   c. Pengalaman
b. Kekuasaan                                                          d. Kejujuran
5. Yang merupakan faktor-faktor untuk menentukan gaya kepemimpinan adalah ...
a. Latar belakang                                                    c. Pengalaman
b. Pengetahuan                                                       d. Kekuasaan
             

6. Pola tingkah laku yang disukai oleh pemimpin dalam proses mengarahkan pekerja adalah pengertian dari ...
a. Gaya kepemimpinan                                           c. Kepribadian
b. Organisasi                                                           d. Kejujuran
7. Kemampuan untuk memberi pengaruh diluar struktur formal organisasi yang kepentingannya sama atau bahkan melebihi pengaruh struktur formal, merupakan pengertian dari?
a. Under leadership                                                c. Management
b. leader                                                                  d. Nonsanctioned leadership
8. Apa yang dikemukakan oleh “Dubin” dalam pengertian kepemimpinan?
a. Awal dari tindakan
b. Proses mengarahkan
c. Menggunakan wewenang dan membuat keputusan
d. Aktivitas yang memudahkan kelompok
9. Apa yang dinamakan dengan manajemen partisipatif?
    a. Faktor orientasi sosial diakomodasi melalui keterlibatan orang-orang dalam menyelesaikan pekerjaan
    b. Hubungan kekuasaan
    c. Proses antarpribadi manajer mempengaruhi pegawai
    d. Seni mengkoordinasikan dan memahami